Jumat, 05 Februari 2010

4 Prinsip Dasar untuk Komunikasi Produktif

Komunikasi saya kira merupakan salah satu bagian yang paling esensial dalam roda kehidupan profesional kita. Kita menyaksikan begitu banyak projek atau program perusahaan macet ditengah jalan hanya gara-gara dis-komunikasi para anggotanya. Sebaliknya, kita juga bisa menyaksikan sebuah arena lingkungan kantor yang bisa berjalan dengan indah lantaran didalamnya terbangun proses komunikasi yang elegan nan produktif.

Sejatinya ketrampilan komunikasi yang efektif memang merupakan sebuah elemen yang patut dijiwai oleh setiap pelaku bisnis dan kaum profesional – entah mereka berperan sebagai manajer, staf pelaksana ataupun para business owner. Berikut ini kita akan mencoba menelisik empat prinsip dasar yang mungkin mesti selalu kita ingat manakala kita ingin menjadi seorang komunikator yang produktif.

Prinsip # 1 : Fokus pada solusi, bukan pada masalah. Ketika kita berinteraksi di kantor, acap kita menyaksikan orang saling sibuk berbicara mencari kambing hitam, menyalahkan pihak lain, dan melulu berfokus pada masalah. Bagian produksi menyalahkan orang marketing. Bagian marketing menyalahkan orang Finance. Dan bagian HRD menjadi tempat tumpahan kekesalan semua departemen (capek deh).

Alih-alih berfokus melulu pada masalah dan sibuk mencari siapa kambing hitamnya, komunikasi kita akan jauh lebih produktif jika kita fokus pada solusi. Sebagai misal, jika kita menemui hambatan dalam salah satu program kerja yang dijalankan di kantor, maka segera kita mesti berdiskusi mencari jalan keluar untuk mengatasi hambatan itu. Otak kita mesti kita gedor untuk segera bicara mengenai solusi, dan menutup pintu bagi munculnya kata-kata yang menyalahkan pihak lain.

Mencari-cari kesalahan dan meyalahkan pihak lain memang mudah, dan secara intuitif, banyak orang yang menyukainya (!) Namun ini hanya buang waktu, dan itulah mengapa banyak kinerja perusahaan macet ditengah jalan. Lipatlah kebiasaan ini dan simpan rapat-rapat didalam laci. Kelak jika Anda menemui rintangan, munculkan sikap yang FOKUS pada SOLUSI.

Prinsip # 2 : Ganti kata-kata Tidak Bisa menjadi Bisa. Contoh sederhana : “Pak, kita TIDAK bisa menyelesaikan projek ini tanpa dukungan tim logistik yang handal”. Kalimat ini akan menjadi lebih produktif dan meletupkan optimisme jika kita ganti menjadi : “Pak kita bisa menyelesaikan projek ini dengan dukungan yang bagus dari tim logistik”. Atau contoh simpel lainnya : “Nak, kamu tidak akan naik kelas jika tidak belajar tekun”. Kalimat ini akan menjadi lebih elegan kalau kita ubah menjadi : “Nak, kamu pasti akan naik kelas jika rajin belajar”.

Para pakar psikologi bilang, semakin banyak kata “tidak” dan kata negatif lainnya kita ucapkan, secara tidak sadar hal ini akan mendorong perilaku kita ke arah negatif (tidak bisa, tidak mampu, dst). Sebaliknya, dengan framing kalimat yang positif, dan ini dilakukan secara repititif, akan membuat perilaku kita menjadi lebih optimis dan kian produktif.

Itulah mengapa ada sebuah nasehat yang mengharapkan agar setiap kosa kata yang mengandung makna negatif (seperti kata : tidak bisa, gagal, tidak mampu, tidak berpengalaman, tidak kompeten, dll) sebaiknya dienyahkan dari perbendaharaan komunikasi kita sehari-hari.

Prinsip # 3 : Katakan apa yang anda inginkan, bukan apa yang tidak anda inginkan. Prinsip ini mirip dengan prinsip nomer dua diatas. Yakni mengajarkan kepada kita untuk selalu membuat frame kalimat positif ketika ingin menyampaikan pesan. Sebagai misal, daripada mengatakan : “Mas, kalau nyetir mobil jangan kebut-kebut” lebih baik disampaikan dengan kalimat : “Mas, nyetir mobilnya hati-hati ya”. Atau contoh lain : “Kalau bikin laporan jangan ceroboh dan banyak bikin kesalahan”. Mengapa kita tidak menggantinya menjadi : “Kalau bikin laporan, tolong konsentrasi penuh agar semua data tersaji dengan akurat”.

Prinsip # 4 : Fokus ke depan, bukan ke masa lalu. Dalam lingkungan pergaulan di kantor kita acap mendengar kalimat seperti : “Nah, apa gue bilang kan……”. Atau kalimat seperti ini : “Nah, bener kan apa yang gue sampekan…”. Oke, kalimat-kalimat seperti ini memang membuat yang ngomong merasa “hebat”, but so what? Jadi, daripada fokus pada masa lalu sebaiknya kita ucapkan : “Okay, kita ambil hikmahnya. Mulai sekarang dan ke depan, kita harus lebih…..”. Kalimat ini akan membuat mitra bicara kita menjadi lebih mendapat respek. Kalimat itu juga akan membuat kita lebih bisa fokus pada solusi, dan maju ke arah masa depan yang lebih baik.

Demikianlah empat prinsip dasar komunikasi yang efektif. Semuanya sejatinya bersifat simpel, sederhana dan praktikal. Namun memang acap kita lupa untuk mempraktekkannya, dan dimana-mana kita banyak melihat orang mengabaikannya.

Karena itu, tak ada salahnya jika poin-poin kunci dalam tulisan ini Anda print lalu tempelkan didekat meja kerja Anda. Siapa tahu dengan itu, Anda bisa menjadi insan yang lebih produktif dalam membangun komunikasi?

Senin, 01 Juni 2009

Retail Marketing

Berbicara mengenai in-store marketing, tata letak display produk sangat erat hubungannya dengan dunia ritel. Bagaimana suatu produk harus bersaing dengan ribuan produk lain agar terliat menonjol di mata konsumen adalah hal yang sangat penting untuk dipelajari, tetapi bukan hanya itu saja yang penting dalam dunia ritel. Mari kita simak apa yang dikatakan Philip Kotler tentang dunia ritel dan persaingannya saat ini.

Bagaimana para manufaktur besar bisa mengatasi kekuatan mega-retailers yang terus bertumbuhan agar tetap menjual produk-produk mereka ?

            Ada pertarungan yang cukup sengit antara pihak menufaktur dan peritel raksasa (mega-retailers). Kekuatan kini bergeser ke arah peritel raksasa yang menjual produk secara massal dan besar-besar. Me, reka dapat menentukan produk-produk mana yang akan dijua. Beberapa ritel besar bahkan bisa mendikte desain, harga dan kemasan produk-produk dari manukfaktur. Pihak manufaktur perlu memiliki kemampuan untuk mendemonstrasikan dan menjelaskan keuntungan-keuntungan apa saja yang bisa diperolleh mega-retailers bila menjual produk-produk mereka.

Strategi apa yang dapat digunakan oleh peritel kecil untuk berkompetisi dengan pesaing-pesaing besar seperti Wal-Mart ?

            Para peritel kecil yang bersaing menghadapi pemain-pemain besar seperti Wal-Mart dan yang lainnya, bisa menjalankan dua strategi berikut ini. Pertama, berpindah ke specialty atau superspecialty merchandising. Artinya, peritel kecil tersebut menawarkan produk beranekaragam dan spesifik kepada kelompok pelanggan yang lebih fokus lagi. Mereka harus lebih jeli melihat kebutuhan konsumen tersebut dan menyediakan produk yang tepat.

            Kedua, peritel harus memiliki diferensiasi yang menonjol dalam hal customer-service serta lebih intim melayani pelanggan. Ritel-ritel kecil jelas tidak mampu bersaing dalam hal biaya dan harga, sebab operasional ritel besar seperti Wal-Mart pasti lebih baik. Tetapi, peritel kecil dapat mengalahkan Wal-Mart dalam hal pelayanan dengan mengenal para pelanggan lebih intip, memberikan pelayanan dan bahkan mengantisipasi kebutuhan pelanggan dengan baik pula.

*) Disadur dari buku Marketing According to Kotler

    Dikutip dari Majalah Marketing edisi No. 08/VII/Agustus/2007